Breaking News

Ridho : Jangan Buang Sampah Di Sungai Dan Selokan


Prabumulih, RT – Walikota Prabumulih Ir Ridho Yahya MM mengharapkan agar warga, untuk tidak membuang sampah di sungai atau di selokan, karena hal itu, dapat memicu aliran air menjadi terseumbat, sehingga bila hujan deras turun, maka dapat menyebabkan banjir. Hal itu dikatakannya karena sungai dan selokan yang penuh dengan sampah menjadi salah satu penyebab banjir yang sering melanda Kota Prabumulih.

Menurut Ridho, dari penelusuran pihaknya beberapa waktu yang lalu, penyebab banjir di Prabumulih, disebabkan oleh 3 hal, mulai dari pendangkalan sungai, banyaknya kayu rengas yang roboh dan jatuh ke sungai, serta sampah yang banyak dibuang sembarangan baik di sungai maupun di selokan. “Jadi kita minta, warga tak buang sampah di sungai atau selokan, karena bisa memicu banjir,” katanya pada wartawan, (17/5).

Selain itu Wako juga meminta warga Prabumulih, untuk dapat selalu menjaga lingkungan, karena lingkungan yang bersih, dapat membuat suasana menjadi lebih sehat. “Kesehatan terjadi kalau kita rutin menjaga kebersihan, dan bila sehat maka kita dapat bekerja dengan baik, di samping itu, dengan menjaga lingkungan, maka banjir dengan sendirinya dapat ditanggulangi,” bebernya.

Ridho juga menuturkan, pihak pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih, juga rutin menjag lingkungan, seperti pelarangan eksplorasi batubara, hingga ke gerakan memungut sampah. “Untuk gerakan memungut sampah, kita rutin juga membersihkan selokan atau drainase, bahkan pihaknya siap menganggarkan dana untuk perbaikan drainse di Prabumulih,” tandasnya.

Sementara itu, terkait dengan pembangunan drainase, Kepala Dinas PU kota Prabumulih, Sufi , mengaku sudah mengusulkan pembangunan drainase di Jalan Padat Karya kepada DPRD kota Prabumulih, pada tahun 2018 nanti. “Sudah diusulkan ke Pemerintah dan DPRD kota prabumulih untuk dianggarkan tahun depan,” ujarnya.

Disinggung upaya pemerintah sementara ini, dalam mengatasi persoalan drainase tersebut dijelaskan Sufi, pihaknya sebelumnya sudah menurunkan tim untuk melakukan pemantauan dan penggerukan di sekitar lokasi parit tersebut. “Namun karena mungkin kurangnya peduli serta perhatian warga terhadap lingkungan di sekitar parit menyebabkanya kembali buntu dan air kembali menggenangi badan jalan,” pungkasnya. (01).